Energi Psikologi
Written by Muhammad Fakhrurrozi
Nasihat kuno para orang bijaksana dari Timur mengatakan bahwa segala perubahan dan segala bentuk yang ada merupakan ekspresi ruang dan waktu dari satu energi universal yang dikendalikan oleh hukum-hukum spiritual. Demikian juga fisika modern menganggap bahwa semua fenomena yang berhubungan dengan sensasi fisik merupakan hasil dari energi, dimana pada tingkat sub atom diatur oleh hukum kuantum fisika (Capra, 1975; Toben, 1975 dalam Russel, 1982).
Jika diterapkan pada perilaku manusia, maka ide tentang energi ini menjadi suatu konsep yang mensintesakan pandangan tradisi spiritual Timur, fisika dan psikologi Barat (Russel, 1982). Psikosintesis menurut Russel (1982) memahami manusia sebagai sebuah sistem energi. Semua tindakan, kesan, emosi dan pikiran pada dasarnya merupakan bentuk energi yang bervariasi. Jika seseorang memaknai perilakunya sebagai energi, maka kemungkinan untuk mengalami transformasi menjadi lebih nyata dan lebih hidup serta membuka berbagai pilihan ekspresi yang baru.
Sebuah pola perilaku atau sistem keyakinan atau reaksi emosi tertentu biasanya terlihat sulit untuk dirubah. Tetapi jika individu memasukkan unsur energi dalam setiap pola tersebut, maka pola-pola tersebut bisa diarahkan kembali. Misalnya saat seseorang berkata, “Beginilah kebiasaan reaksi marah saya” ini akan sulit untuk diarahkan. Tetapi jika merubahnya menjadi, “Saya merasakan suatu energi: apakah saya akan mengekspresikannya dengan berteriak, atau mengatakan bahwa saya sedang marah, atau mencubit, atau menenangkan diri, atau membuat sesuatu, dan sebagainya”.
Menurut penulis, pada kalimat pertama dapat dirasakan, bahwa individu yang bersangkutan tidak memiliki kesadaran untuk merubah atau mengarahkan ekspresi marahnya, cenderung menjalani kebiasaan yang sudah ada. Sedangkan pada pernyataan kedua, individu menyadari bahwa ekspresi marahnya sebagai sebuah energi bisa diarahkan dengan berbagai pilihan. Dengan kata lain, energi dapat menumbuhkan suatu kesadaran (awareness) tertentu. Kesadaran energi (energy awareness) ini akan membawa seseorang melebihi dari hanya sekedar melihat sesuatu yang tampak ke pemaknaan yang tidak terlihat (inner quality). Misalnya ada seseorang tersenyum dan menyapa.
Jika tanpa kesadaran energi, yang tampak adalah bahwa orang tersebut ramah. Tetapi jika dengan kesadaran energi, maka kualitasnya bisa bermacam-macam, mungkin senyumnya menunjukkan ketulusan dan kehangatan, atau sopan dan formal atau bahkan senyum palsu. Selain itu, kesadaran energi juga mengantarkan seseorang menuju tingkat kesadaran yang lebih tinggi, membangkitkan intuisi, menampakkan inner quality yang baru atau perasaan terhadap kejadian yang akan datang. (Russel, 1982).
Lebih jelasnya bahwa kesadaran energi membantu seseorang untuk mengembangkan potensi-potensi untuk melakukan transformasi, memperhalus sensitifitas dan mengoptimalkan petunjuk dari dalam diri. Assagioli menambahkan bahwa tugas psikosintesis spiritual adalah memfasilitasi kemampuan untuk merasa dan menguasai tingkat-tingkat spektrum energi tersebut. Bahkan Assagioli berspekulasi bahwa kekuatan utama psikologi masa depan adalah psychoenergetics, yang menggunakan energi sebagai fokus utamanya. Gerard (dalam Russel, 1982) menjelaskan bahwa teori medan energi dalam psikologi integral mempunyai postulat bahwa kualitas kesadaran berhubungan dengan frekuensi energi di dalam atau di sekitar tubuh. Semakin tinggi frekuensi, maka kesadarannya semakin luas.
Semakin konkrit pengalaman seseorang berkenaan dengan sensasi fisik, emosi dan pikiran konkrit, maka frekuensinya semakin rendah. Semakin tinggi kesadaran, maka semakin tinggi frekuensinya (Golas dalam Russel, 1982). Russel (1982) menambahkan bahwa energi dari rasa takut atau benci memiliki frekuensi yang lebih rendah daripada energi cinta dan kebahagiaan. Psikosintesis memahami bahwa alam semesta merupakan satu energi yang terwujud dalam berbagai macam cara.
Manusia hidup dalam lautan energi dari beragam frekuensi yang saling berhubungan untuk menciptakan berbagai bentuk dan pola. Pemahaman ini sesuai dengan pendapat Einstein (dalam Prabowo, 2007) yang mengatakan bahwa keadaan (matter) dan energi adalah aspek yang dapat dipertukarkan dari realitas dasar yang sama. Segala sesuatu di alam semesta ini dapat direduksi dari energi menjadi medan-medan energi dan semuanya terkoneksi. Eksperimen berikutnya menunjukkan bahwa partikel-partikel yang terpisah di dalam ruang saling mengkomunikasikan informasi seketika. Selanjutnya Wolf (1985) menambahkan bahwa studi-studi dalam bidang fisika kuantum menunjukkan hasil yang meyakinkan bahwa keberadaan keadaan fisik, cahaya dan energi tidak bisa terlepas dari kesadaran manusia.
Hal ini membuktikan bahwa antara fisika dan psikologi bisa berhubungan. Benjamin (2005) menambahkan bahwa energi secara umum terbagi menjadi dua yaitu energi besar dan energi kecil. Energi besar biasanya mengacu pada konsep Tuhan atau keyakinan, atau sesuatu yang bermakna besar bagi individu. Sedangkan energi kecil merupakan energi yang digerakkan dari uang, status, popularitas dan semacamnya. Keduanya menurut penulis akan mengarahkan pola perilaku dalam hidup seseorang. Seseorang yang diliputi energi besar misalnya Tuhan, cenderung akan berperilaku yang mengarahkan kepada Tuhan seperti menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, senantiasa berbuat baik dengan harapan diberi pahala dan masuk surga, dan sebagainya.
Demikian juga individu yang digerakkan oleh energi kecil misalnya uang, maka segala perilakunya akan bertujuan untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan cara mendapatkannya. Selain itu, Brennan (dalam Benjamin, 2005) berpendapat bahwa perhatian adalah sumber energi. Jadi, seseorang akan mendapatkan energi yang besar dengan memberikan perhatian pada orang lain. Semakin besar pemberian perhatian kepada orang lain, maka semakin besar energi yang didapat.(MF).