PEMBELAJARAN DIGITAL YANG EFEKTIF BAGI ANAK AUTIS
Kegiatan pengabdian masyarakat kali ini merupakan kerja sama antara Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma dengan SLB Sarana Terpadu, Jakarta Selatan. Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “Pembelajaran Digital yang Efektif bagi Anak Autis”. Dengan narasumber Dr. Wahyu Rahardjo kegiatan ini telah dilaksanakan pada Kamis, 30 November 2023 bertempat di Gedung Graha Simatupang, Jakarta Selatan.
Dr. Wahyu Rahardjo dalam pemaparannya menyatakan, bahwa penerapan teknologi pada kehidupan anak autis memiliki beberapa tujuan.
- Adapun tujuan awalnya adalah mendukung penyandang autis dan keluarganya mempelajari cara mengatasi autis dengan benar, mengatasi tantangan yang ada, memperkuat kesejahteraan dan perilaku pada penyandang autis dan keluarganya sehari-hari.
- Kemudian, penerapan teknologi pada kehidupan anak autis juga dapat meningkatkan kompetensi tertentu yang dimiliki anak autis serta meningkatkan ketertarikan dan motivasi siswa autis untuk belajar materi tertentu.
Dalam usaha menerapakan teknologi pada kehidupan anak autis tentunya memiliki permasalahan dasar, diantaranya adalah :
-
- Kesiapan Institusi
Merujuk pada bagaimana institusi dapat berupaya untuk menyediakan sarana dan prasarana yang dapat mendukung penerapan teknologi pada siswa autis. Hal ini tentu akan berkaitan juga dengan biaya yang akan dikeluarkan oleh institusi dalam menyediakan sarana dan prasarana penunjang. - Kesiapan Sumber Daya Manusia
Sumber daya yang dimaksud disini adalah Guru. Sebelum memberika pengajaran tentang teknologi, pada siswa Autis, tentunya Guru harus terlebih dahulu paham mengenai penerapan teknologi ini. Pihak institusi dapat mebekali para guru dengan mengikutsertakan guru pada kegiatan pelatihan-pelatihan tertentu yang tentunta dapat menambah pengetahuan guru mengenai perkembangan teknologi. - Kesiapan Teknologi
Ini merupakan masalah dasar selanjutnya yang tak kalah penting. Karena, untuk menerapkan penggunaan teknologi pada kehidupan anak autis, tentunya harus didukung dengan kesiapan teknologi. Kesiapan teknologi disini merujuk pada Misalnya ketersediaan jaringan internet, perangkat komputer dan lain sebagainya.
- Kesiapan Institusi
Tantangan Pembelajaran Digital Bagi Anak Autis :
- Bisa menggunakan tetapi akan menemui kesulitan di beberapa area yang butuh penalaran kompleks
- Potensial memunculkan kecemasan pada siswa autis
- Kesulitan dalam ketangkasan manual dan menggunakan tetikus. Solusi desain: gunakan permainan dan aktivitas yang dirancang khusus untuk mengajarkan kontrol tetikus dan penggunaan keyboard.
- Para siswa lebih menyukai lingkungan yang tenang dan tenteram saat melaksanakan tugasnya. Solusi desain: suara dapat disetel ke senyap untuk semua modul yang dirancang
- Siswa dengan autisme merespon lebih baik terhadap informasi visual daripada hanya insformasi tekstual. Solusi desain: grafis antarmuka pengguna dirancang dengan warna-warna cerah
- Siswa autis tertarik pada objek benda mati (diam) dan cenderung berfokus pada detail kecil. Solusi desain: antarmuka pengguna dirancang dengan sederhana tanpa isyarat visual yang berantakan
- Siswa autis cenderung menunjukan perilaku berulang dan lebih menyukai peristiwa yang dapat di prediksi. Solusi desain: pertimbangan khusus diberikan dalam meperkenalkan konsep-konsep baru dengan kecepatan lebih lambat, permainan edukasi yang diperkenalkan dalam aplikasi ini berkembang secara berurutan.
Hal-hal yang Harus Diingat untuk Pembelajaran Digital bagi Anak Autis
- Untuk pembuatan CAI dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak dengan kompetensi masing-masing
- Perhatikan level spektrum autisme dari siswa
- Gunakan pembelajaran digital yang minim opsi. Karena semakin kompleks opsi, makan akan semakin besar perjuangan dan kebingungan siswa
- Fokus pada pembelajaran digital yang tujuan pembelajarannya juga sederhana
- Siswa autis membutuhkan waktu pembelajaran yang lebih lama
- Jika berbentuk video pemebalajaran, pastikan kalimat yang diucapkan model atau tutor harus sederhana dan jelas
- Untuk kelas non inklusi, pembelajaran dapat dilakukan secara bersama-sama dalam grup.
- Kondisi kelas harus terkendalikan tanpa gangguan karena siswa autis potensial mengalami disorientasi fokus saat belajar
- Setelah pembelajaran dilakukan harus survei untuk mendapatkan kesan dan umpan balik siswa
Referensi :
- Abduljabar, T. M. (2021). E-learning based mobile application for kids with Autism Spectrum Disorder. Tesis (tidak dipublikasikan). Altinbas University.
- Adams, D., Simpson, K., Davies, L., Campbell, C., & MacDonald, L. (2019). Online learning for university students on the autism spectrum: A systematic review and questionnaire study. Australasian Journal of Educational Technology, 35(6), 111-131.
- Biju, S. M., Todd, C., Tchantchane, L., & Yakoob, B. (2013). E-learning software for students with autism. Dalam T. Sobh & K. Elleithy (Eds.), Emerging trends in computing, informatics, system sciences, and engineering: Lecture notes in electrical engineering (pp. 403-410). Springer. doi: 10.1007/978-1-4614-3558-7_33
- Blundell, C., Lee, K. T., & Nykvist, S. (2016). Digital learning in schools: Conceptualizing the challenges and influences on teacher practice. Journal of Information Technology Education: Research, 15, 535-560
- Musaraj, J., & Muskaj, B. (2022). Technology as a learning tool: Access of austistic children to learning. International Journal of Special Education, 37(2), 129-139. https://doi.org/10.52291 /ijse.2022.37.46


