Anakku kok Beda?
Written by Muhammad Fakhrurrozi
“Mengapa anakku sampai sekarang belum bisa bicara, padahal kakaknya pas seumur dia dah pinter bicara. Kenapa ya?”. “Anak tetanggaku kok dah pinter lari-lari ya? Kan usianya lebih mudah dibandingkan anakku. Anakku aja baru bisa jalan pelan…”. Duh, ini kok baru bisa tengkurep sih? Dari buku katanya kalau seusia dia, dah bisa merangkak. Jangan-jangan kenapa-kenapa lagi dengan anakku?”. Ya, itu adalah sebagian kecil pertanyaan-pertanyaan yang sering orang tua lontarkan ketika melihat perkembangan buah hatinya berbeda dengan yang lainnya.
Pertanyaan itu mungkin wajar karena para orang tua merasa khawatir dengan buah hatinya. Bagaimana sebenarnya, apakah boleh kita membanding-bandingkan anak kita dengan yang lain? Membanding-bandingkan sebenarnya tindakan yang kurang bijaksana, karena semua anak tumbuh dan berkembang secara unik. Setiap anak adalah merupakan pribadi yang berbeda. Bahkan sepasang anak kembar sekalipun, mereka tetap merupakan anak yang berbeda dan harus diperlakukan berbeda sesuai dengan karakteristik anaknya.
Mereka masing-masing berkembang sesuai potensi dan peluang masing-masing yang terlihat dalam tempo dan kecepatannya dalam mengikuti proses perkembangan diri. Hal itu lah yang menyebabkan mengapa seorang anak berkembang tidak selalu sesuai dengan usia kronologisnya (usia sebenarnya). Keunikan setiap anak juga menjadikan kecepatan perkembangannya tidak selalu sama dengan anak yang lain seusianya. Seorang bayi misalnya, bisa saja berkembang dengan pesatnya, bahkan melebihi bayi normal lainnya.
Tapi ada juga yang berkembang dalam tempo yang lambat. Namun demikian, yang perlu kita pahami adalah setiap bayi tidak akan unggul atau lebih cepat pada semua perkembangannya (perkembangan kognitif, perkembangan sosial, perkembangan motorik). Jika ada satu perkembangan yang unggul, pastilah ada perkembangan yang lebih lambat yang terjadi pada dirinya. Misalnya, seorang anak ada yang bisa cepat berbicara dibandingkan anak seusianya. Tapi di sisi lain, saat itu ia belum lancar berjalan, sementara teman-teman sebayan sudah mahir berjalan.
Ada yang lebiih cepat dalam perkembangan sosialnya. Mudah akrab dengan siapa saja, tapi satu sisi perkembangan kognitifnya tidak secepat itu perkembangannya. Pemahaman ini mungkin bisa sedikit mengurangi rasa kekhawatiran orang tua saat melihat perkembangan buah hatinya berbeda dengan yang lain. Namun demikian, bukanlah merupakan hal yang salah jika orang tua merasa khawatir saat melihat hal itu. Tapi tentunya tidak menjadi sesuatu yang berlebihan. Apalagi jika ternyata perkembangan anak-anak kita masih dalam kategori normal. Diharapkan orang tua dapat memahami anak sebagai pribadi yang unik dan khas. Pemikiran semacam ini akan menghasilkan sikap yang rasional dan objektif dalam menilai anak-anak yang pada akhirnya akan memunculkan sikap bijaksana dari orang tua dalam memperlakukan anak sesuai kemampuan dan kebutuhannya.
Anak-anak yang dihargai pribadinya sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya, tanpa paksaan dari orang tua, biasanya akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Mereka akan dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kemampuan untuk berhasil sesuai dengan kemampuannya. Pemahaman tentang kekhasan seorang anak, akan merangsang orang tua untuk selalu kreatif dalam memperlakukan anak. Dimana pada akhirnya jika orang tua, guru dan lingkungannya telah memahami hal ini, maka anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang sehat mental kelak. (MF).