{"id":437,"date":"2023-05-29T08:57:29","date_gmt":"2023-05-29T08:57:29","guid":{"rendered":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/?p=437"},"modified":"2023-05-29T08:57:31","modified_gmt":"2023-05-29T08:57:31","slug":"gengsi-dengan-pasangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/2023\/05\/29\/gengsi-dengan-pasangan\/","title":{"rendered":"Gengsi dengan Pasangan?"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Written by Muhammad Fakhrurrozi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti apa keluarga harmonis itu? Secara singkat sebuah keluarga harmonis akan tercipta saat para anggotanya bisa berhubungan secara imbang dan serasi, saling memuaskan kebutuhan anggota yang lain serta memperoleh pemuasan atas segala kebutuhannya. Seringkali kita mendengar istilah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Tapi pada kenyataannya menciptakan keluarga harmonis tidaklah semudah kita membacanya di atas kertas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita lihat berbagai banyak fenomena di sekitar kita yang memperlihatkan suasana keluarga yang tidak harmonis. Entah bercerai, tidak nyaman di rumah, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, dsb. Apa yang membuat sebuah keluarga harmonis memiliki harga yang sangat mahal, sehingga tampak tidak mungkin untuk dijangkau? &nbsp; Salah satu penyebabnya adalah GENGSI.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yah, satu kata ini jika diabaikan dalam sebuah keluarga, akan menimbulkan lubang masalah yang lebih besar. Persis seperti lubang di jalan yang pada awalnya kecil, tapi karena tiap hari selalu menahan beban kendaraan yang lewat di atasnya ditambah dengan hujan dan banjir, maka lubang yang awalnya kecil, bisa berubah menjadi lubang besar yang membahayakan pengguna jalan. Gengsi seringkali muncul di saat sebuah pernikahan telah sampai pada tahap harus saling memuaskan kebutuhan pasangan masing-masing. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam hubungan suami istri, contohnya. Merasa sudah cukup lama bersama, membuat mereka merasa yakin bahwa mereka sudah mengenal pasangannnya dengan baik. Padahal pasangan kita bukanlah batu yang diam saja jika kita perlakukan bagaimanapun. Pasangan kita adalah sosok manusia yang hidup, dinamis dan selalu berubah. Mulai dari dari fisiknya, kemampuannya sampai kebutuhannya. Disinilah kita harus benar-benar memahami kondisi ini. Kebutuhan dalam sebuah pernikahan itu sangatlah banyak diantaranya kebutuhan rasa aman lahir dan batin, saling menghargai, saling berbagi pengalaman, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, kebutuhan kenyamanan fisik dan kebutuhan seksual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak terpuaskannya salah satu kebutuhan antar pasangan tersebut, bisa berdampak pada kebahagiaan antar pasangan. Mungkin salah satu pihak akan merasa tidak bahagia dengan pasangannya yang jika dibiarkan akan mengembangkan perasaan ketidakbahagiaan pada keluarganya. Sedikit gambaran tersebut hanya salah satu dari sekian banyak kendala yang mempengaruhi lancarnya komunikasi antar pasangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gengsi untuk mengutarakan kebutuhan dan harapan pada pasangannnya secara terbuka kadang kala menjadi hambatan. Pasalnya, baik suami atau istri berpendapat, pasangannya harus tahu apa yang ia inginkan dan butuhkan tanpa harus mengatakannya. Padahal mana mungkin suami atau istri akan mengetahui apa yang diinginkannya kalau ia tidak mengutarakan kepada pasangannya. Keengganan berkomunikasi ada juga yang disebabkan karena reaksi dan pasangannya yang kurang diharapkan, seperti emosional, cuek atau selalu mengkritik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hambatan-hambatan tersebut dapat dihilangkan dengan komunikasi yang terbuka. Diikuti rasa saling percaya, jujur, tidak basa basi, saling menghargai dan saling menerima sesuai keadaan, waktu dan tempat. Keterbukaan disini bisa menyangkut apa saja, misalnya sikap dan pendapat, selera dan minat yang dibarengi dengan harapan masing-masing pasangan. Akhirnya, selamat menjalani kehidupan keluarga yang harmonis. Tidak perlu gengsi kepada pasangan kita dan jangan takut terlihat lemah di depan pasangan kita sehingga selalu menampilkan sosok Super Hero. (MF).<\/p>\n\n\n<!-- wp:themify-builder\/canvas \/-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Written by Muhammad Fakhrurrozi Seperti apa keluarga harmonis itu? Secara singkat sebuah keluarga harmonis akan tercipta saat para anggotanya bisa berhubungan secara imbang dan serasi, saling memuaskan kebutuhan anggota yang lain serta memperoleh pemuasan atas segala kebutuhannya. Seringkali kita mendengar istilah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Tapi pada kenyataannya menciptakan keluarga harmonis tidaklah semudah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,14],"tags":[],"class_list":["post-437","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-informasi","category-psikologi-perkembangan-id","has-post-title","has-post-date","has-post-category","has-post-tag","has-post-comment","has-post-author",""],"builder_content":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/437","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=437"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/437\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":439,"href":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/437\/revisions\/439"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=437"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=437"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fpsi.gunadarma.ac.id\/psikologi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=437"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}