Bermain dan Belajar

Ditulis pada 14 Juli 2010 10:46 WIB

Written by Muhammad Fakhrurrozi 

Bermain adalah kegiatan yang berperan sangat besar dalam perkembangan sosial, emosi, fisik dan kognitif anak. Bermain merupakan cara efektif bagi anak untuk belajar tentang diri, juga lingkungan sekitarnya. Karena itu para pakar perkembangan anak tak jemu-jemunya menyerukan bahwa bermain adalah pekerjaan anak. Jika pada tahun pertama kehidupan si kecil menggunakan seluruh inderanya untuk belajar tentang lingkungan, maka seiring pertambahan usia, tepatnya ketika memasuki tahun kedua, pola bermain si kecil mengalami perubahan. Permainannya semakin imajinatif dan lebih rumit.

Pada tahun kedua ini, lewat permainannya yang lebih imajinatif, si kecil mengasah berbagai keterampilannya seperti kemandirian, kreativitas, rasa ingin tahu dan memecahkan masalah. Pola permainan ini membantunya menggali perasaan, nilai-nilai dan mengembangkan keterampilan sosialnya. Jika diperhatikan, jauh sebelum si kecil berbagi mainan dengan temannya, dia akan melakukan hal itu pada bonekanya. Bahkan tanpa diingatkan kata sopan seperti "terima kasih", "silahkan" atau yang lain secara spontan terlontar ketika dia main dengan bonekanya. Melihat besarnya peran bermain dalam proses belajar si kecil, tak salah jika Anda tergelitik ingin tahu jenis-jenis permainan yang dapat mengembangkan kemampuan si kecil tersebut. Para ahli menyarankan bahwa cara bijak mengetahuinya adalah dengan memperhatikan tugas perkembangan si kecil sesuai usianya. Sebagai contoh, pada usia sekitar 13 bulan, si kecil kadang bereksplorasi dengan hukum sebab akibat. Ajaklah dia bermain petak umpet, ciluk ba, dengan bersembunyi di balik meja dan kursi.

Permainan ini akan memberikan pemahaman tentang ada dan tidak ada pada si kecil. Pada anak usia 2 tahun, menurut Catherine Marchant, terapis bermain dari Boston, pola bermainnya dapat dibagi seperti berikut ini: Bermain fungsional dan represensional: beraktivitas dengan benda-benda yang dikenalnya dan memberi fungsi sebenarnya atau yang mirip dengan benda tersebut. Misalnya, mendorong mainan pemotong rumput di atas halaman berumput, bernyanyi-nyanyi dengan sikat rambut bundar yang bentuknya mirip mikrofon atau menggunakan pensil untuk membuka baut. Bermain simbol: bermain pura-pura dengan benda-benda di sekitarnya. Misalnya saja, si kecil terlihat asyik menyetir dalam kardus bekas yang dianggapnya sebagai mobil, lengkap dengan suara mesin lewat mulutnya. Atau memainkan tali yang dianggapnya sebagai selang di SPBU dan diarahkan ke mobil-mobilannya sebagai tanda dia sedang mengisi bensin untuk mobilnya. Sejalan dengan perkembangan bermain si kecil ini, tugas kita sebagai orang tua adalah memberikan dorongan positif dan menyediakan dukungan berupa kesempatan dan berbagai sarana yang dibutuhkannya ketika bermain. (MF).